Dunia kembali dibuat terdiam setelah kemunculan seorang dokter Palestina, Hussam Abu Safiya, dalam persidangan di Mahkamah Israel pada 10 Juni 2026. Sosok yang selama ini dikenal sebagai dokter anak dan direktur Kamal Adwan Hospital itu tampil bukan lagi sebagai tenaga medis yang pernah menyelamatkan ribuan nyawa di Gaza, melainkan sebagai tahanan dengan kondisi fisik yang mengejutkan dunia.
Rekaman persidangan memperlihatkan Abu Safiya dengan tubuh yang sangat kurus, wajah pucat, mata cekung, dan tatapan kosong yang dinilai keluarganya sebagai tanda penderitaan fisik serta mental berkepanjangan. Pengacaranya menyebut selama lebih dari 500 hari penahanan tanpa dakwaan resmi, ia mengalami penurunan berat badan drastis hingga sekitar 40 kilogram, patah tulang rusuk, gangguan penglihatan, isolasi berkepanjangan, serta dugaan penyiksaan berat selama interogasi.
Namun tragedi Dr. Hussam bukanlah kisah yang berdiri sendiri.
Ia kini dianggap sebagai simbol dari nasib ribuan warga Palestina yang selama bertahun-tahun menghadapi sistem penahanan Israel yang menjadi sorotan organisasi hak asasi manusia internasional. Banyak tahanan Palestina dilaporkan ditahan berbulan-bulan hingga bertahun-tahun melalui mekanisme administrative detention β penahanan tanpa proses pengadilan terbuka dan tanpa bukti yang dipublikasikan kepada publik.
Di berbagai laporan kemanusiaan, mantan tahanan Palestina menggambarkan pengalaman berupa pembatasan akses makanan, kurangnya layanan medis, isolasi ekstrem, perlakuan keras saat interogasi, hingga tekanan psikologis yang meninggalkan trauma mendalam. Dalam konteks perang Gaza yang terus berlangsung, kelompok HAM menilai kondisi ini semakin memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah sangat parah.
Yang membuat dunia bereaksi lebih keras adalah fakta bahwa Dr. Hussam merupakan seorang dokter β profesi yang secara prinsip hukum humaniter internasional memiliki perlindungan khusus saat konflik berlangsung. Ia sebelumnya dikenal tetap bertahan di rumah sakit Gaza ketika wilayah utara dibombardir, memilih merawat pasien dan bayi-bayi yang terluka meski fasilitas medis nyaris lumpuh total.
Kini, kemunculannya dengan kondisi memprihatinkan memicu kemarahan global.
Sejumlah organisasi internasional seperti Amnesty International, United Nations, dan Physicians for Human Rights Israel kembali mendesak pembebasannya serta investigasi independen terhadap dugaan perlakuan tidak manusiawi selama penahanan.
Di saat bersamaan, opini publik global terhadap Israel terus mengalami perubahan tajam. Demonstrasi solidaritas Palestina terus berlangsung di berbagai kota dunia β dari London, Madrid, Jakarta, New York, hingga Cape Town. Banyak kalangan akademisi, aktivis HAM, dan sebagian pemerintah mulai mempertanyakan kebijakan militer Israel serta dampaknya terhadap warga sipil.
Di media sosial internasional, sentimen publik semakin kritis. Banyak yang menilai konflik ini bukan lagi sekadar perang melawan kelompok bersenjata, melainkan telah berkembang menjadi persoalan kemanusiaan global yang mempertaruhkan prinsip-prinsip hukum internasional.
Kasus Dr. Hussam Abu Safiya menjadi gambaran yang sangat kuat: seorang dokter yang dahulu menyelamatkan anak-anak di tengah perang, kini muncul di layar pengadilan dalam kondisi lemah, tangan diborgol, tubuh kurus, dan mata yang kehilangan cahaya.
Bagi banyak orang di seluruh dunia, gambar itu bukan sekadar foto seorang tahanan.
Itu adalah potret dari pertanyaan besar yang kini menggema di berbagai negara
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!