Selama puluhan tahun, kolesterol—terutama lemak jenuh—dianggap sebagai penyebab utama serangan jantung dan stroke. Namun, penelusuran sejarah ilmu gizi menunjukkan bahwa narasi tersebut lahir dari proses ilmiah yang tidak sepenuhnya bersih, serta dipengaruhi kepentingan industri pada dekade 1960-an.
Pada era pasca-Perang Dunia II, angka penyakit jantung di Amerika Serikat meningkat tajam. Situasi ini mendorong para ilmuwan mencari satu “biang keladi” utama. Fokus kemudian mengarah pada kolesterol dan lemak jenuh, terutama melalui penelitian yang dipopulerkan oleh fisiolog Ancel Keys dengan Seven Countries Study. Studi itu berpengaruh besar, tetapi kemudian dikritik karena memilih data negara tertentu dan mengabaikan negara lain yang tidak sesuai dengan hipotesisnya.
Di saat yang sama, ancaman terhadap industri gula mulai muncul. Beberapa penelitian awal menunjukkan bahwa konsumsi gula berlebih—terutama sukrosa—berkorelasi dengan penyakit jantung koroner. Dokumen internal yang dibuka ke publik pada 2016 mengungkap bahwa Sugar Research Foundation (SRF)—cikal bakal Sugar Association—membayar dua peneliti dari Harvard University, Mark Hegsted dan Fredrick Stare, untuk menulis tinjauan ilmiah.
Artikel tersebut diterbitkan pada Journal of the American Medical Association (JAMA) tahun 1967, dan secara sistematis mengecilkan peran gula sambil menekankan lemak dan kolesterol sebagai penyebab utama penyakit jantung. Pada masa itu, praktik transparansi konflik kepentingan belum diwajibkan, sehingga pendanaan industri tidak diungkap ke publik.
Sejak publikasi tersebut, arah kebijakan kesehatan global berubah drastis. Pemerintah dan lembaga kesehatan menganjurkan diet rendah lemak, sementara industri makanan mengganti lemak dengan gula dan karbohidrat olahan agar produk tetap terasa lezat. Ironisnya, langkah ini beriringan dengan meningkatnya obesitas, diabetes tipe 2, dan sindrom metabolik di berbagai negara.
Namun, para ahli menegaskan bahwa menyimpulkan “kolesterol bukan penyebab penyakit jantung” juga merupakan penyederhanaan berlebihan. Ilmu kedokteran modern memandang penyakit jantung sebagai kondisi multifaktorial: dipengaruhi oleh peradangan kronis, resistensi insulin, pola makan ultra-proses, gaya hidup sedentari, merokok, faktor genetik, serta profil lipid yang kompleks—bukan sekadar angka kolesterol total.
Kolesterol LDL tetap diakui sebagai faktor risiko, tetapi bukan satu-satunya dan bukan penyebab tunggal. Di sisi lain, konsumsi gula berlebih kini diakui luas berperan besar dalam memicu peradangan, disfungsi metabolik, dan risiko kardiovaskular.
Kontroversi ini menjadi pelajaran penting bahwa ilmu pengetahuan tidak pernah berdiri di ruang hampa. Kepentingan ekonomi, politik kebijakan, dan keterbatasan metodologi dapat membentuk “kebenaran” yang bertahan puluhan tahun sebelum akhirnya ditinjau ulang.
Hari ini, konsensus ilmiah bergerak ke arah yang lebih seimbang: menekankan pola makan utuh, minim pangan ultra-proses, pengendalian gula tambahan, aktivitas fisik, dan penilaian risiko individual—bukan sekadar menyalahkan satu zat gizi.
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!