Anggota Komisi I DPR RI, Tubagus Hasanuddin, mengungkapkan besarnya anggaran yang dialokasikan pemerintah untuk pelatihan dasar militer atau Latsarmil bagi calon manajer Koperasi Desa Merah Putih. Menurutnya, biaya yang dikeluarkan untuk komponen latihan militer mencapai sekitar Rp30 juta per peserta dari total anggaran pelatihan sebesar Rp45 juta per orang selama 45 hari.
Hasanuddin menjelaskan, pemerintah mengalokasikan sekitar Rp5 juta per peserta setiap pekan. Dengan durasi pelatihan selama sembilan pekan, total anggaran mencapai sekitar Rp45 juta. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp30 juta digunakan untuk pelaksanaan latihan militer selama 30 hari, sementara Rp15 juta sisanya dialokasikan untuk pelatihan manajerial yang berlangsung selama 15 hari.
Ia menilai komponen latihan militer tidak berkaitan langsung dengan kompetensi yang dibutuhkan seorang manajer koperasi. Menurutnya, fokus pelatihan seharusnya diarahkan pada peningkatan kemampuan manajemen, tata kelola koperasi, kepemimpinan, serta pengelolaan usaha agar para peserta lebih siap menjalankan tugasnya dalam mengembangkan koperasi desa.
Hasanuddin juga menyebut, apabila komponen latihan militer dihapus dari program tersebut, pemerintah berpotensi menghemat anggaran dalam jumlah yang cukup besar. Dana yang dihemat itu dinilai dapat dialihkan untuk memperkuat materi pelatihan manajerial, meningkatkan kualitas pendampingan koperasi, atau mendukung program pemberdayaan masyarakat desa yang dinilai lebih relevan dengan tujuan pembentukan Koperasi Desa Merah Putih.
Pernyataan tersebut memunculkan perhatian publik terkait efektivitas penggunaan anggaran negara dalam program pelatihan calon manajer koperasi. Sejumlah pihak pun mendorong agar pemerintah melakukan evaluasi terhadap komposisi pelatihan sehingga anggaran yang dikeluarkan benar-benar memberikan manfaat maksimal serta sesuai dengan kebutuhan kompetensi para peserta.
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!