Keputusan Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1447 H pada 18 Februari 2026 bukan sekadar soal tanggal. Ia adalah pernyataan arah: apakah kalender Islam akan terus berjalan secara lokal, atau bergerak menuju sistem global yang terintegrasi.
Untuk pertama kalinya, Muhammadiyah secara penuh menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Prinsipnya sederhana tetapi revolusioner: satu hari, satu tanggal untuk seluruh dunia. Jika kriteria astronomis terpenuhi di satu titik bumi sebelum tengah malam universal, maka seluruh dunia dianggap telah memasuki bulan baru.
Bagi sebagian orang, ini tampak logis. Bumi ini satu, bulan pun satu. Mengapa tanggal Ramadan harus berbeda-beda hanya karena garis bujur dan batas negara?
Namun bagi yang lain, pendekatan ini dianggap terlalu “matematis” dan menjauh dari tradisi rukyat—melihat hilal secara langsung—yang telah diwariskan berabad-abad.
---
Antara Sains dan Tradisi
Tidak dapat dipungkiri, ilmu astronomi modern mampu menghitung posisi bulan dengan presisi tinggi. Ijtimak 17 Februari 2026 terjadi pada 12:01 UTC. Di wilayah barat bumi, parameter ketinggian dan elongasi bulan sudah memenuhi kriteria. Secara hitungan, bulan “sudah ada”.
Keputusan Muhammadiyah ini bahkan sejalan dengan Fiqh Council of North America (FCNA), yang juga menetapkan awal Ramadan pada tanggal yang sama berdasarkan hisab global.
Pertanyaannya: apakah keberadaan bulan secara matematis cukup, meski secara visual sulit terlihat?
Sebagian ulama menjawab: ya, karena hisab adalah ilmu pasti.
Sebagian lain menjawab: tidak, karena rukyat adalah perintah tekstual yang eksplisit.
Perdebatan ini bukan baru. Ia sudah hidup sejak masa klasik Islam. Yang baru adalah konteks globalisasi, di mana umat Islam di berbagai belahan dunia terhubung dalam hitungan detik.
---
Mengapa Indonesia Hampir Pasti Berbeda?
Di Indonesia, keputusan resmi berada di tangan
Kementerian Agama Republik Indonesia melalui sidang isbat.
Pendekatannya adalah kombinasi hisab dan rukyat lokal. Jika hilal belum memenuhi kriteria di wilayah Indonesia pada 17 Februari 2026, maka besar kemungkinan awal puasa ditetapkan pada 19 Februari.
Di sinilah letak persoalannya: apakah umat akan melihat perbedaan ini sebagai dinamika ijtihad, atau justru sebagai simbol perpecahan?
---
Lebih dari Sekadar Tanggal
Perdebatan awal Ramadan sering kali berhenti pada “siapa yang benar”. Padahal inti persoalannya bukan benar atau salah, melainkan metodologi.
Hisab global ingin menghadirkan kepastian jauh-jauh hari dan menghapus fragmentasi kalender Islam internasional.
Rukyat lokal ingin menjaga keterikatan langsung antara teks syariat dan fenomena langit yang kasat mata.
Keduanya memiliki landasan fikih yang sah.
Yang menjadi ujian justru bukan perhitungan astronomi, melainkan kedewasaan sosial umat.
Apakah kita mampu menerima bahwa dua ijtihad yang berbeda dapat sama-sama sah?
Apakah kita bisa berpuasa dengan khusyuk meski tetangga memulai sehari lebih awal atau lebih lambat?
---
Momentum Menuju Kesatuan atau Polarisasi?
Tahun 1447 H bisa menjadi momentum penting. Jika pendekatan global semakin diterima, dunia Islam mungkin perlahan menuju kesatuan kalender yang lebih rapi.
Namun jika perbedaan ini kembali memicu saling menyalahkan, maka yang terjadi justru polarisasi yang tidak perlu.
Ramadan seharusnya mengajarkan pengendalian diri, bukan memperuncing perdebatan.
Pada akhirnya, yang akan dinilai bukan tanggalnya, melainkan ketakwaannya.
Wallahu a’lam bish-shawab
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!